Rabu, 26 Januari 2011

Black Hole `Si` Pembuat Galaksi

Penelitian terbaru mungkin akan menjelaskan mengapa galaksi yang sangat besar cenderung memiliki lubang hitam di tengah-tengahnya.

Selama ini, para peneliti astronomi terus bertanya, mana yang lebih dulu ada: lubang hitam atau bintang yang mengitarinya?

Seperti dikutip dari laman The Telegraph, Selasa 1 Desember 2009, sebuah observasi di jarak lima miliar tahun cahaya dari bumi mungkin akan memberikan jawaban. Objek penelitian ini, quasar, sumber energi lubang hitam raksasa yang aktif.

Tak ada benda luar angkasa yang selamat dari gravitasi jika dekat lubang hitam ini. Peneliti menemukan materi yang berputar di pinggir lubang hitam, memancarkan energi radiasi yang cukup besar.

Radiasi dari quasar memancar saat alam semesta berumur lebih tua sepertiga lebih dari sekarang.

Para ahli astronomi juga menemukan lubang hitam ini berbeda dengan yang lainnya. Lubang satu ini disebut 'naked (telanjang)' dan tidak terletak di tengah-tengah sebuah galaksi. Meski demikian, ada galaksi lain yang dekat dan menjadi 'rekan' lubang ini dan menciptakan bintang-bintang baru dengan tingkat produksi, 350 matahari per tahun.

Galaksi ini benar-benar aktif, super panas, memancarkan energi partikel yang sangat tinggi, dan gas sangat cepat, keluar dari quasar.

Peneliti percaya material yang terbentuk akan menjadi memasok bahan untuk membuat galaksi. Sehingga, quasar ini membentuk galaksinya sendiri. Tahap akhir, quasar diharapkan berada di tengah-tengah galaksi.

''Dua obyek ini (galaksi dan quasar) akan menyatu di masa depan. Quasar bergerak dengan kecepatan ribuan kilometer per jam. Dan jarak keduanya tersisa hanya 22 ribu tahun cahaya saja," kata Kepala peneliti David Elbaz dari CEA research institute, Saclay, Perancis.

Galaksi Bimasakti

Teman-teman, selain ada tata surya yang terdiri dari planet dan matahari, ada juga tata bintang atau sering disebut galaksi. Galaksi adalah pengelompokan bintang terbesar di alam semesta. Ada berbagai macam galaksi, contohnya adalah Andromeda dan Bimasakti.

Nah, Bumi tempat kita tinggal, terletak di Bimasakti. Galaksi Bimasakti merupakan rumah bagi planet bumi, anggota tata surya dan, 200 bintang lainnya. Sebagai rumah dari planet dan bintang-bintang, galaksi Bimasakati berukuran sangat besar. Diameternya saja mencapai 100 ribu tahun cahaya. Massa atau beratnya antara 750 miliar hingga satu triliun massa matahari.

Bentuk galaksi Bimasakti itu seperti spiral yang melingkar. Pada bagian tengahnya terlihat lingkaran cahaya yang lebih terang dibandingkan sekilingnya. Cahaya tersebut dinamakan Halo. Sedangkan bagian pinggirnya berbentuk seperti cakram.

Lingkaran cahaya atau Halo itu berisi bintang-bintang tua. Lalu bagian cakramnya berisi gas, debu dan bintang-bintang muda. Matahari yang selalu menyinari Bumi kita itu ternyata dianggap bintang muda, karena umurnya baru lima miliar tahun.

Cakram dari galaksi Bimasakti dinamakan konstelasi. Cakram Bimasakti dibagi dua bagian yaitu cakram mayor dan cakram minor. Cakram mayor terdiri dari Perseus, Sagitarius, Centaurus, dan Cygnus. Sedangkan sistem tata surya kita berada di cakram minor, yang bernama Orion.

Teman-teman pasti penasaran ingin melihat langsung tata bintang di angkasa. Saat liburan nanti pergi saja ke Planetarium, Jakarta. Selain bisa melihat gambaran galaksi Bimasakti, kalian juga akan mendapatkan banyak ilmu astronomi.

10 Penyakit Misterius

Makin banyaknya penyakit baru yang bermunculan membuat para peneliti berusaha terus mencari obatnya. Namun, ada beberapa penyakit tergolong tertua di dunia yang sampai sekarang belum ada obatnya. Bahkan, penyebab penyakit ini pun masih misterius.

Sepuluh penyakit yang juga dianggap mematikan ini masih terus diteliti para ilmuwan. Berikut ini nama-nama penyakit misterius itu, dikutip dari Methods Of Healing.

1. AIDS
Penyakit ini ditemukan pertama kali pada 25 tahun lalu. Sampai sekarang, para ilmuwan masih berusaha menemukan obatnya. Saat ini, AIDS tetap menjadi salah satu penyakit yang paling mematikan, terutama di negara-negara berkembang.

2. Penyakit alzheimer
Orang yang menderita sakit ini berarti mengalami kondisi di mana sel-sel saraf di otak mati, sehingga sinyal-sinyal otak sulit ditransmisikan dengan baik. Gejalanya sulit dideteksi. Orang yang menderitanya memiliki problem dengan daya ingat, penilaian, dan berpikir. Penyebab pasti penyakit ini tidak diketahui dan tidak dapat disembuhkan.

3. Flu burung
Manusia tidak memiliki kekebalan terhadap serangan virus flu ini. Kekhasan virus ini ialah ketika sekali masuk ke tubuh manusia, virus akan bermutasi terus. Yang paling dikhawatirkan para ilmuwan ialah kalau virus ini sampai menular dari manusia ke manusia lain.

Tingkat kematian di antara orang yang terinfeksi virus flu burung (H5N1) ialah 50%. Sejauh ini yang tercatat medis, sebagian besar infeksi terjadi melalui kontak langsung antara manusia dan burung yang membawa virus.

4. Pica
Orang yang didiagnosis menderita Pica biasanya memiliki dorongan tak tertahankan untuk makan sesuatu yang tidak wajar, misalnya tanah liat atau lem kertas, bahkan plastik. Meskipun penyakit ini terkait dengan tubuh yang kekurangan mineral, para ahli belum menemukan penyebab pasti atau pengobatan untuk itu.

5. Penyakit autoimun
Ini adalah istilah generik, yang menggambarkan kondisi mengerikan. Salah satu satunya dikenal sebagai penyakit lupus, penyakit yang mempengaruhi berbagai organ tubuh. Sejauh ini, para peneliti belum mampu menemukan pemicu penyakit ini. Menurut ilmuwan, orang yang paling rentan terkena penyakit ini adalah wanita.

6. Skizofrenia
Para ahli menganggap itu salah satu gangguan mental yang paling membingungkan, karena meniadakan logika dan kemampuan pasien untuk membedakan antara realitas dan fantasi.

Gejalanya bervariasi. Misalnya delusi, halusinasi, inkoherensi dalam pidato, kurangnya motivasi atau emosi. Contohnya, orang yang menderita penyakit ini selalu merasa terancam.

7. Penyakit Creutzfeldt-Jakob
Penyakit mengganggu otak yang biasanya berakibat fatal. Gejalanya seperti gangguan pada memori serta perubahan perilaku. Menurut ilmuwan, penyakit yang sering disebut 'sapi gila' ini mampu berkembang cepat.

8. Flu
Setiap tahun di Amerika Serikat, tercatat ada miliaran kasus flu. Namun, dokter masih belum memiliki data yang cukup mengenai flu dan penyebabnya. Obat yang paling sering direkomendasikan kepada pasien adalah sup panas.

9. Sindroma kelelahan kronis
Penyakit ini memiliki manifestasi klinis yang tidak dapat dijelaskan. Pasien yang menderita sindroma ini selalu akan merasa sangat lelah. Akhirnya, mereka selalu berada di tempat tidur sepanjang waktu.

10. Penyakit Morgellons
Penyakit misterius ini mengembangkan gejala yang paling tidak biasa yang mengingatkan Anda pada film horor. Orang yang terkena akan memiliki ruam kulit yang aneh. Akan keluar serat misterius dari kulit. Kulit akan berubah warna menjadi merah, hitam atau biru.

Selain itu, pasien akan merasakan sensasi mengerikan. Seolah-olah ada semua jenis makhluk yang bergerak di bawah kulit mereka. (pet)

Ini Tameng Badai Matahari Buatan NASA

Tahun 2013 akan jadi tahunnya Sang Surya. Saat itu diperkirakan akan terjadi badai Matahari. Meski tak sampai menghancurkan peradaban di Bumi, ini jelas fenomena yang tak boleh dianggap remeh.

Badai Matahari bisa mempengaruhi atmosfer, memutus jaringan telekomunikasi, dan mematikan jaringan listrik di Bumi. Akibatnya fatal bagi manusia yang terlanjur tergantung pada teknologi.

Bayangkan, hidup tanpa listrik, dalam hitungan jam bahkan bulan. Sementara, alat transportasi massal -- kereta, MRT, subway, dan pesawat terbang. Tak hanya itu, alat navigasi berbasis GPS dan satelit akan lumpuh. Jangan harap telepon genggam Anda akan bisa digunakan.

Pada 2008, diprediksi, badai matahari akan menelan biaya ekonomi US$ 2 triliun di tahun pertama. Pemulihan butuh waktu 10 tahun.

Untuk mengantisipasi malapetaka, Badan Antariksa AS, NASA menemukan alat terbaru: peringatan dini untuk melindungi sumber energi Bumi dari dahsyatnya badai Matahari.

Proyek terbaru NASA ini dinamakan 'Solar Shield' yang didesain untuk memprediksi tingkat keparahan badai Matahari di lokasi tertentu di Bumi. Ini untuk membantu perusahaan listrik merencanakan respon dan membatasi potensi kerusakan pada peralatan mereka.

"Alat ini untuk mengetahui 'sesuatu akan datang dan mungkin menjadi besar," kata kepala proyek, Antti Pulkkinen, seperti dimuat situs Space.com.

Bagaimana cara kerjanya?

Prosesnya akan seperti ini: Saat coronal mass ejection atau lontaran massa korona Matahari terdata, data dari observatorium seperti satelit SOHO dan satelit Stereo NASA , memungkinkan tim membuat model 3D dan menyediakan prediksi jangka panjang kapan badai akan tiba -- sampai prediksi 24-48 jam.

Tim lalu menggunakan komputer di Goddard's Community Coordinated Modeling Center (CCMC) membuat prediksi umum,

Lalu, satelit pemantauan cuaca angkasa NASA akan memantau saat aliran partikel bergerak lebih dekat ke Bumi, sekitar 30 sampai 60 menit sebelum mencapai planet kita.

Data terkini, memungkinkan tim untuk cepat memperbaiki dan menyempitkan prediksi mereka. Hasil ini akan disampaikan NASA kepada Electric Power Research Institute Program Sunburst dan lalu disampaikan pada perusahaan penyedia listrik.

Pulkkinen mengatakan proyek Solar Shield masih dalam tahap percobaan dan masih dibutuhkan data yang pengamatan Matahari lebih banyak.

Galaksi Purba Yang Tersembunyi

Astronom dan kosmolog dari The Open University di Milton Keynes, Inggris berhasil mendeteksi galaksi purba. Ia melakukan hal itu dengan menggunakan efek yang ditimbulkan oleh distorsi ruang dan waktu yang berada di jarak yang sangat jauh antara bumi dan galaksi tersebut.

Menurut astronom tersebut, Mattia Negrello, sebelumnya galaksi ini tersembunyi di balik debu-debu ruang angkasa. Penemuan galaksi yang sangat jauh tersebut berpotensi menyingkap bagaimana proses terbentuknya alam semesta dan galaksi awal.

Dia menjelaskan, galaksi jarak jauh umumnya sulit dilihat. Akan tetapi galaksi yang cahaya redupnya terselubung debu luar angkasa lebih sulit lagi dideteksi, bahkan meski menggunakan teleskop terbesar yang ada saat ini. Namun, para stronom berhasil mendongkrak efektivitas teleskop mereka dengan mengandalkan lensa dan galaksi yang ada di antara astronom dengan objek yang ingin mereka lihat.

Daya tarik gravitasi dari objek yang berada di tengah-tengah antara peneliti dan obyek yang diamati dapat mengganggu ruang dan waktu, efek ini mampu membelokkan cahaya. Efek yang disebut dengan ‘gravitational lensing’ inilah yang dapat meningkatkan kemampuan pengelihatan terhadap galaksi yang sangat jauh, atau setidaknya memungkinkan peneliti menangkap beberapa gambar seputar galaksi tersebut.

Umumnya, menemukan gravitational lense juga sangat memakan waktu. Saat ini, menggunakan data dari teleskop luar angkasa Herschel, galaksi bisa dideteksi dengan mudah menggunakan cahaya berpanjang gelombang sub milimeter jika mengamati langit dengan berukuran luas yang cukup.

Objek yang dilihat dari jarak sub milimeter umumnya diperkirakan merupakan galaksi berdebu, berada pada jarak yang jauh dan mengalami ledakan kuat dari terbentuknya bintang. Aktivtas intens ini menghasilkan debu yang mengaburkan mereka. Pada posisi langit tertentu, peneliti menemukan lima lensa gravitasi baru, galaksi berdebu yang membentuk bintang.

“Saya memperkirakan sekitar empat sampai enam buah galaksi terdeteksi pada data yang kami kumpulkan setahun lalu,” kata Mattia Negrello, seperti dikutip dari Space, 9 November 2010.

“Data tersebut mewakili sekitar 3 persen dari seluruh area yang akan dipetakan oleh Herchel di dalam H-ATLAS (Herschel Astrophysical Terahertz Large Area Survey).” Kata Negrello. “Sangat menggembirakan saat diketahui bahwa sebenarnya ada 5 buah,” ucapnya.

Metode yang digunakan peneliti kali ini lebih sederhana dibandingkan teknik sebelumnya. Mereka mengamati langit untuk mencari radiasi berukuran sub milimeter, mengidentifikasi objek yang paling terang dan menghilangkan beberapa kontaminan seperti galaksi lain yang ada di dekatnya.

Semua yang tersisa kemudian diketahui sebagai galaksi yang membentuk bintang. “Ini merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pemunculan gravitational lensing,” ucap Negrello.

Menurut Negrello, lima buah galaksi yang ditemukan diibaratkan hanya merupakan puncak dari gunung es. “Kami berharap dapat menemukan lebih dari 100 lagi dalam H-ATLAS penuh nantinya,” ucapnya.

Dengan menangkap detail yang diperkuat oleh gravitational lensing pada sejumlah galaksi, peneliti berharap akan dapat lebih memahami bagaimana cara mereka terbentuk dan berevolusi.